Dua Kelenteng Tua Kota Surabaya
6:51:00 AM
Kondisi
Surabaya tidak sepanas biasanya. Persiapan menghadapi sinar matahari yang terik
ternyata tidak terlalu bermaanfaat melihat sedikit mendungnya langit pada hari
itu. Jaket yang aku gunakan ternyata hanya memberikan rasa gerah saja yang
seharusnya berguna untuk melindungiku dari sengatan matahari. Tidak apalah,
mungkin sedikit berguna agar tidak menggelapkan kulit dan terlindung dari
polusi di jalan. Memang pada hari itu kami berniat untuk mengunjungi kelenteng
yang ada di daerah pecinan atau Kya-Kya di Surabaya. Kami telah bersepakat
untuk berkumpul di taman depan Jembatan Merah Plaza pada hari Minggu tanggal 12
November pukul 10:00 dan akan melanjutkan ke destinasi pertama dengan berjalan
kaki.
Pukul
09:40 aku berangkat dari rumah bersama dengan driver ojek online yang selalu
ada dan siap sedia mengantarkanku kemana-mana menuju ke taman depan Jembatan
Merah Plaza. Datang 10 menit lebih lambat dari waktu yang telah ditentukan
membuatku tergesa-gesa mencari teman-teman yang telah berkumpul, tapi
sebelumnya tidak lupa aku sampaikan terimakasih kepada driver ojek online yang
mengantarku secepat mungkin. Beruntung ternyata teman-teman masih berkumpul dan
belum berangkat ke tempat tujuan. Sampai di tengah lingkaran forum tersebut aku
langsung membuka note di handphone dan mencatat berbagai informasi karena
ternyata ada narasi awal mengenai sejarah daerah sekitar Jembatan Merah ini.
Pada momen ini aku baru dapat menikmati atmosfer daerah ini karena sebelumnya aku
fokus mencari teman-temanku. Daerah ini membuatku serasa berada pada zaman
kolonial karena bangunannya yang masih terjaga seperti pada saat dibangun.
Jalanannya yang lebar dengan volume kendaraan yang kecil, banyak becak, trotoar
yang lebar, apalagi Jembatan Merah yang ikonik benar-benar mendukung suasana
zaman kolonial.
Setelah
bertukar wawasan sejarah-sejarah singkat mengenai daerah yang kental dengan
unsur zaman kolonial ini, kami mulai bergerak menuju kelenteng pertama.
Melewati Jembatan Merah yang sangat bersejarah ini dengan berjalan kaki, aku
serasa lebih mantap menyusuri dan menggali lebih dalam sejarah-sejarah yang ada
di daerah ini. Memang alasan kenapa kita berjalan kaki karena tempatnya yang
cukup sempit sehingga motor mungkin tidak bisa parkir semua dan mobil tentunya
juga sangat sulit untuk parkir. Tapi juga ada manfaat lain. Dengan berjalan
kaki kita dapat menikmati daerah pecinan dengan menyusuri sepanjang jalan di
Kya-Kya dan mengamati kondisi bangunan-bangunan di sekitar kita. Melewati bangunan
merah semacam gerbang dengan dua naga di samping kiri dan kanan menandakan kami
telah memasuki daerah pecinan Kya-Kya. Kondisi Kya-Kya yang aku lihat tidak
terlalu ramai seperti yang kukira dengan segala macam aktivitas khas daerah
pecinan. Mungkin memang aku tidak mengalami dan merasakan masa-masa kejayaan
daerah Kya-Kya karena menurutku memang seharusnya daerah ini ramai apalagi saat
malam. Aku lihat masih banyak toko-toko yang buka dan entah apa mungkin semacam
gudang. Juga ada tentunya daerah pemukiman melewati gang-gang kecil di
sepanjang jalan. Aku sempat berpikir bagaimana bisa toko-toko kecil seperti ini
dapat bertahan karena memang kondisinya sangat sepi. Mungkin ini dapat terjawab
jika tujuan pengamatan kami terfokus pada daerah Kya-Kya. Beberapa menit
berjalan, kami melewati gerbang yang sama dengan sebelumnya. Seprtinya ini
menandakan kami berjalan keluar dari daerah Kya-Kya. Lalu kami belok kiri
melewati jalan yang cukup kecil. Ternyata kelenteng yang menjadi tujuan kami
ada di jalan ini.
Nama
kelenteng ini adalah Kelenteng Hong Tiek Hian atau jika dicari di google muncul
nama Kelenteng Nyamplungan. Kelenteng ini terdapat di Jalan Dukuh. Konon
katanya kelenteng ini dibangun oleh pasukan Kubilai Khan ketika melakukan
invasi ke Nusantara sehingga dapat dikatakan kelenteng ini adalah kelenteng
tertua di Surabaya. Kami masuk melalui semacam gapura kecil berwarna merah.
Di dalamnya ada jalan kecil juga yang
memisahkan dua bangunan. Kami disana disambut oleh Pak Kiong yang siap
memberikan arahan di Kelenteng Hong Tiek Hian ini. Pertama kami diarahkan ke
salah satu ruangan yang mana kami disambut dengan patung-patung bersenjata di
bagian kiri dan kanan dengan dupa atau hio di depannya. Aku sempat kebingungan
untuk membagi aktivitas antara mengambil foto atau mencatat penjelasan dari Pak
Kiong. Tapi sudah kuputuskan untuk mengambil foto saja dan informasi dari Pak
Kiong bisa aku dapatkan dari teman-teman. Di tengah-tengah ruangan ada tempat
pemujaan yang terdapat deretan lilin yang menyala. Pilar-pilarnya berhiaskan
naga-naga. Sedangkan di dinding-dindingnya terdapat semacam prasasti berbentuk
lingkaran beraksara mandirin yang tidak bisa kubaca.
Karena cukup penasaran aku pun terjebak dalam
alur penjelasan Pak Kiong dan meninggalkan fokusku semula yaitu mengambil foto.
Pak Kiong bercerita ketika kita berkeliling, bahwa sebenarnya Kelenteng Hong
Tiek Hian ini pernah terbakar tetapi banyak barang-barang di dalamnya selamat
dan tidak terbakar sama sekali. Lalu kami beralih ke gedung satunya. Di ruangan
ini kami disambut lilin-lilin di kiri dan kanan pintu masuk. Pas di depan kami
ada semacam tempat pertunjukan wayang dengan cerita dari Tiongkok yang disebut
dengan wayang Pho Tee Hi yang nanti akan kami tonton.
Di sebelah kiri ada toko yang menjual uang dewa dan hio mungkin, aku belum sempat menanyakan lebih lanjut. Lalu ke arah tangga juga ada tempat pemujaan lagi. Lalu Pak Kiong mempersilakan kami untuk naik ke lantai dua.
Di atas cukup terang karena lumayan terbuka. Di bagian tengah ada tempat pemujaan kecil dan aku juga sempat melihat seseorang sedang beribadah. Aku mulai kebingungan karena ternyata banyak sekali hal yang harus diperhatikan dan Pak Kiong terus berpindah-pindah tanpa waktu jeda sejenak. Yang jelas terdapat banyak tempat pemujaan di ruangan yang berbeda juga. Seperti yang aku ketahui ada ruangan tempat pemujaan yang di sana ada Dewi Kwan Im. Ada beberapa pilar yang ternyata setiap pilar memiliki tujuan yang berbeda. Ada pilar yang berfungsi sebagai tempat berdoa biasa, ada juga pilar yang ditujukan untuk suami istri yang belum memiliki anak untuk berdoa agar dapat segera mendapat keturunan. Jika masuk lebih dalam lagi ada pintu kecil menuju keluar ruangan. Terdapat tempat pembakaran uang dewa yang dilakukan sebagai salah satu tahapan dalam berdoa yang juga dilakukan dengan membakar dupa atau hio.
Setelah
berkeliling cukup lama, kami dipersilakan untuk duduk di tempat yang telah
disediakan untuk mendengar penjelasan Pak Kiong. Ini menurutku kesempatan yang
sangat baik untuk mendengarkan lebih jelas penjelasan dari Pak Kiong. Sengaja
aku duduk di dekat Pak Kiong agar mudah mendengar dan mungkin menanyakan
hal-hal yang tidak aku ketahui. Alhamdulillah kami disuguhi minuman karena aku
lupa membawa minuman dari rumah.
Pak Kiong membuka forum diskusi tersebut dengan menjelaskan kelenteng secara umum. Pak Kiong berusaha meluruskan pandangan masyarakat Indonesia yang awam terutama kami pada saat itu bahwa sebenarnya kata kelenteng dalam penyebutan tempat peribadatan orang Tionghoa itu kurang tepat karena kelenteng seharusnya dikaitkan dengan agama. Kelenteng Hong Tiek Hian ini adalah tempat peribadatan Tri Dharma yang terdiri dari Buddha, Konghucu, dan Tao. Di Hong Tiek Hian ini dan semua tempat peribadatan Tri Dharma ada lonceng dan bedug yang melambangkan langit dan bumi. Ketika pagi dan sore lonceng dan bedug ini dibunyikan secara bergantian sedangkan ketika ada upacara resmi akan dibunyikan secara bersamaan.
Beliau menjelaskan bahwa setiap kelenteng
dapat menghadap mana saja karena kiblat setiap tempat peribadatan Tri Dharma
ini adalah langit. Meskipun begitu bangunan ini tetap dibangun berdasarkan feng
shui yang memang berdasarkan ilmiah dan bukan takhayul. Pada forum ini beliau
menjelaskan panjang lebar mengenai pentingnya bertoleransi karena sejatinya
setiap agama yang ada itu memiliki cita-cita yang sama.
Setelah
mendengar penjelasan Pak Kiong kami pun berpamitan. Tidak lupa kami berfoto
bersama dengan beliau sebagai kenang-kenangan. Lalu kami pun turun ke bawah. Ternyata
ada pertunjukan wayang Pho Tee Hi yang sedang berlangsung. Aku sibuk
mengabadikan foto dan video karena pertunjukan ini memang terlihat menarik
meski aku tidak paham ceritanya. Ketika sibuk mengambil foto, tiba-tiba pintu
samping panggung terbuka dan seorang pria mengisyaratkan agar kami boleh masuk.
Beberapa dari kami termasuk aku pun masuk ke belakang panggung wayang. Aku
manfaatkan kesempatan ini untuk mengambil video belakang panggung pertunjukan
wayang ini. Di dalam cukup ramai karena banyak sekali instrumen yang dimainkan
oleh sekelompok orang. Saking asyiknya mengabadikan foto dan video, ternyata
aku menjadi orang terakhir di sana dan yang lainnya sudah berada di gerbang
depan. Kami pun mulai bergerak ke kelenteng berikutnya.
Sepanjang
perjalanan banyak yang berhenti sejenak untuk membeli minum dan makan. Aku
tetap melanjutkan perjalanan untuk memasuki kelenteng kedua, Boen Bio.
Kelenteng ini terletak di Jl. Kapasan yang cukup ramai dengan kendaraan yang
lalu-lalang. Kelenteng ini didirikan pada tahun 1903. Sampai di sana kami
disambut hangat oleh pengurus kelenteng ini. Kebetulan ternyata ketika kami
datang keadaan kelenteng sedang lampu mati sehingga terkesan gelap namun masih
didukung oleh pencahayaan alami dari luar. Aku memilih duduk paling depan
sehingga lebih leluasa memfoto objek di kelenteng dan sangat menguntungkan juga
karena dekat dengan pendingin ruangan ketika listrik kembali menyala, lumayan
setelah sebelumnya cukup gerah. Berbeda dengan ketika kami di kelenteng Hong
Tiek Hian, kami langsung disediakan tempat duduk untuk mendengarkan penjelasan
langsung mengenai kelenteng karena memang kelenteng tersebut terdiri dari satu
ruangan saja dan cukup luas.
Tepat
di depanku terlihat jelas dan gagah patung sosok Nabi Konghucu atau Konfusius
yang dari nama beliau nama agama Konghucu diambil. Kelenteng ini jelas berbeda
dengan Hong Tiek Han karena Boen Bio adalah tempat peribadatan agama Konghucu
sendiri yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Tian. Sedangkan Hong Tiek Han
adalah tempat peribadatan Tri Dharma.
Kali
ini kami benar-benar dijelaskan secara detail masing-masing maksud atau
filosofi dari setiap objek yang ada di Boen Bio. Boen Bio ini merupakan
miniatur dari Boen Bio yang lebih besar di Tiongkok. Di depan ada empat pilar
yang menunjukkan ajaran Konghucu bahwa seluruh manusia bersaudara. Pintu di
Boen Bio ini ada lima yang melambangkan hubungan sosial manusia, yaitu hubungan
orangtua dengan anak, suami dengan istri kakak dengan adik, sesama teman, dan
juga pimpinan dengan bawahan. Terdapat dua lampu minyak yang melambangkan Yin
Yang, unsur-unsur yang berkebalikan tetapi dapat bersatu secara harmonis. Di
langit-langit ada lampion-lampion harapan yang berisi nama serta harapan orang
tersebut. Lampion ini diganti setiap tahun baru. Bagian belakang altar berisi
nama-nama murid terbaiknya. Banyak sekali hal-hal lain yang dijelaskan namun
tidak dapat aku rangkum karena istilah-istilahnya yang sulit untuk langsung
ditangkap dan dipahami. Dulu ketika masa perjuangan, kelenteng Boen Bio ini
sempat menjadi tempat perlindungan para pejuang dan berhasil selamat dari
pengeboman meski bagian belakang kelenteng terkena ledakan. Di penghujung acara
kami diajari salam dalam agama Konghucu lalu seperti biasa kami mengabadikan
foto bersama.
Kunjungan
hari itu membuatku membuka mata dan melihat lebih jelas bahwa sebenarnya
kelenteng itu tidak bisa semerta-merta kita asosiasikan sebagai chinese temple seperti yang Pak Kiong
bilang. Kelenteng merupakan tempat peribadatan agama tertentu. Secara umum aku
melihat bahwa kelenteng-kelenteng tersebut masih memiliki kondisi fisik yang
bagus untuk kategori cagar budaya. Perawatan selalu dilakukan oleh pihak
pengelola dan masyarakat masih memanfaatkannya karena memang berkaitan dengan
tempat peribadatan. Demi keaslian bangunan cagar budaya alangkah lebih baik
jika bangunan tersebut tidak dibangun gedung tambahan dan fokus pada
mempercantik bangunan yang sudah ada tanpa meninggalkan kesan bangunan cagar
budaya.




0 comments